Boyolali, 17 September 2025 — Pondok Pesantren Al Madinah di Nogosari, Boyolali, mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembinaan santri melalui acara Sarasehan Asatidzah pada Rabu (17/9). Bertempat di Masjid Al Madinah Grenjeng, forum ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengajar dan pengurus yayasan dengan tujuan utama mempererat ukhuwwah dan menyusun strategi pembinaan yang lebih efektif.
Acara yang dipimpin oleh Ketua Yayasan, Al Ustadz Jauhari, Lc., dan Mudir Pondok, Al Ustadz Muhammad Na’im, Lc., M.Pd., ini menjadi wadah untuk mencari solusi konkret atas berbagai tantangan dalam mendidik santri.
Komitmen Penuh Pendidik 24 Jam
Salah satu poin utama yang ditekankan adalah peran dan tanggung jawab para pengajar (asatidzah) yang tidak hanya terbatas di dalam kelas.
“Tanggung jawab kita adalah 24 jam. Kita harus hadir sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan bagi para santri,” tegas Al Ustadz Jauhari. Ia mengingatkan bahwa keteladanan nyata dari para ustadz akan menumbuhkan semangat ibadah dan akhlak mulia pada diri santri.

Menciptakan Lingkungan Aman: Konsep “Pesantren Ramah Anak”
Forum ini secara khusus menyoroti pentingnya kenyamanan dan keamanan santri di lingkungan pondok. Untuk mengatasi isu perundungan (bullying) dan menciptakan suasana yang kondusif, forum menyepakati beberapa langkah implementasi konsep “Pesantren Ramah Anak”, antara lain:
- Mengadakan sosialisasi anti-bullying secara intensif kepada seluruh santri.
- Menyediakan survei lingkungan belajar (SurLingJer) melalui angket digital yang dikelola oleh Tim SPMB untuk menjaring masukan secara rutin.
Peningkatan Kualitas Ibadah dan Kesehatan
Sarasehan ini juga membahas berbagai aspek teknis untuk mendukung pengembangan santri, di antaranya:
- Disiplin Ibadah: Mengatur ulang jadwal pengingat shalat jamaah Dzuhur dan Ashar di asrama agar santri lebih sigap ke masjid. Selain itu, jadwal piket ustadz untuk menginap di asrama juga akan dioptimalkan.
- Layanan Kesehatan: Meskipun Unit Kesehatan Pesantren (UKP) telah memiliki tiga pegawai, diusulkan adanya penambahan perawat untuk memastikan layanan kesehatan tersedia penuh 24 jam. Turut dibahas pula tawaran kerja sama Medical Check Up (MCU) dari RS Banyu Bening untuk para asatidzah.

Pembinaan dan pengawasan santri terus berjalan selama 24 jam sebagai wujud komitmen para asatidzah.
Sinergi dengan Wali Santri
Untuk menyamakan visi pendidikan antara pesantren dan keluarga, sarasehan ini mendorong pengadaan kajian rutin untuk wali santri. Program ini dianggap krusial untuk menjaga jalinan komunikasi yang erat.
Al Ustadz Muhammad Na’im menegaskan bahwa seluruh masukan dari forum ini akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi manajemen. “Kita ingin santri merasa betah, nyaman, dan tumbuh dengan akhlak yang baik. Semua pihak punya peran penting dalam mewujudkan ini,” tutupnya.








